Category Archives: Amerika

New York City, New York – USA

 Saran bagi teman yang akan berangkat ke New York untuk pertama kalinya: Kunjungi Empire State Building, Times Square, dan museum terlebih dulu. Saksikan minimal satu pertunjukan Broadway. Lalu, pilih salah satu kawasan—kawasan manapun—untuk dijelajahi lebih dalam. Anda tidak mungkin menelusuri seluruh NYC dalam sekali perjalanan, namun memfokuskan pada salah satu kawasan, misalnya kultur Afrika Amerika di Harlem atau sejarah imigran di Lower East Side akan sangat menyenangkan. 

This slideshow requires JavaScript.

Jangan Lewatkan
 
Advertisements

California – Balboa Park : Botanical Garden

California, nature, Travel , USA
 
 Taman ini sangat besar! ,terbuka untuk umum, taman daerah terbuka. Hanya ada kereta untuk anak-anak, dan banyak atraksi untuk segala usia. . Dikelilingi oleh beberapa atraksi taman  di sepanjang jalan ke mana pun Anda memilih untuk pergi. Anda bahkan dapat melihat rumah-rumah internasional yang berbeda. Ada 15 rejan informasi, museum , beragam budaya. dan bermain teater, dan melihat-lihat di The Old Globe atau Stadion Balboa.  Paviliun Organ Spreckels memiliki tontonan musik untuk semua orang . atau  Balboa Park merupakan tempat yang populer ,San Diego Zoo. Ada juga sepeda dan hiking trails untuk tipe luar ruangan
 
 

This slideshow requires JavaScript.

 
 

Vancouver BC : Kota Layak Huni

Vancouver memiliki peringkat tinggi di seluruh dunia peringkat “kota layak huni” untuk lebih dari satu dekade menurut penilaian majalah bisnis dan itu juga diakui oleh Economist Intelligence Unit sebagai kota pertama untuk menentukan peringkat di antara top-sepuluh dari dunia kota paling layak huni selama lima tahun berturut-turut.  ini telah menyelenggarakan banyak konferensi internasional dan acara, termasuk 1954 British Empire and Commonwealth Games, Expo 86, dan Polisi Dunia dan Permainan Api pada tahun 1989 dan 2009. The 2010 Olimpiade Musim Dingin dan Musim Dingin 2010 Paralimpiade diselenggarakan di Vancouver dan Whistler terdekat, sebuah komunitas resor 125 km (78 mil) utara kota.

 

 

 
 
 

Wisata kota dengan gedung tertinggi di Dunia

Wisata Kota dengan gedung tertinggi di dunia

 

1.Burj, Dubai

Gedung Burj Dubai akan menjadi gedung tertinggi di dunia, mengalahkan gedung Taipei 101 di Taiwan yang saat ini tercatat sebagai gedung tertinggi di dunia dengan tinggi 508 meter.
Emaar Properties yang mengerjakan proyek pembangunan gedung itu mengatakan, tinggi Burj Dubai kemungkinan akan mencapai 693 meter. Jika pembangunan selesai, Burj Dubai akan memiliki sekitar 160 lantai, 56 elevator, apartemen, kolam renang, spa, hotel pertama milik disainer kondang Giorgio Armani dan tempat observasi di lantai 124.
“Pembangunan Burj Dubai kini baru sampai lantai 141, jumlah lantainya lebih banyak dari bangunan manapun di dunia, ” demikian pernyataan Emaar Properties yang masih merahasiakan detil struktur pembangunan gedung itu.
Saat ini masih terjadi pro kontra seputar penentuan gedung tertinggi, apakah dihitung hanya sampai lantai teratas atau termasuk tinggi antena gedung. Namun pihak Emaar Properties berharap, pembangunan Burj Dubai bisa memenuhi standar Dewan Bangunan-Bangunan Tinggi dan empat kriteria Urban Habitat agar bisa dinyatakan sebagai gedung tertinggi di dunia. Empat kriteria itu antara lain, ketinggian struktur puncak bangunan, lantai tertinggi yang bisa dicapai, puncak atap bangunan dan titik runcing yang tertinggi dari bangunan tersebut.
Menurut Direktur Proyek Emaar Properties Greg Sang, seperti dikutip Associated Press, Burj Dubai akan menjadi simbol Dubai sebagai salah satu kota di dunia. Sementara itu, ketuanya Muhammad Ali Alabbar mengatakan, Dubai terinspirasi untuk membangun sebuah ikon global.
Pembangunan gedung yang dimulai 21 September 2004 lalu, rencananya selesai pada tahun 2008 mendatang. Titik tertinggi gedung ini diperkirakan bisa terlihat dari jarak 100 kilometer.

2. Taipei 101 Building

Nama sebenarnya adalah Gedung Finansial Internasional Taipei, namun kemudian lebih populer dengan nama Taipei 101 Building. Gedung yang terletak di Distrik Xinyi, Taipei, Taiwan ini memiliki tinggi 509 meter atau 1.671 kaki. Hingga hari ini tercatat sebagai gedung tertinggi di dunia ke dua lewat tiga dari empat standar yang dibuat oleh Konsil Gedung Tertinggi dan Habitat Urban. Diresmikan penggunaannya secara penuh pada tanggal 31 Desember 2004, di tengah perayaan tahun baru dalam suatu pesta yang semarak.
Dalam banyak aspek, Taipei 101 Building adalah salah satu pencakar langit yang paling maju yang pernah dibuat sampai sekarang. Gedung ini memiliki keunggulan yaitu penggunaan jaringan komunikasi menggunakan fiber optik dan hubungan internet satelit yang dapat mencapai kecepatan 1 gigabit per detik. Untuk mendukung mobilitas penghuni dan penggunanya, menara ini dilengkapi dengan dua lift paling cepat di dunia untuk ukuran gedung tertinggi. Kecepatan optimumnya mencapai 1.010 meter per menit ketika bergerak naik dan 600 meter per menit saat turun. Itu artinya, lift bergerak dengan kecepatan 60,6 km per jam!
Luas total Taipei 101 Building mencapai 450.000 meter persegi dengan 214.000 meter untuk perkantoran, 77.500 untuk perdagangan, dan 73.000 untuk tempat parker. Untuk menyetabilkan menara terhadap guncangan gempa, angina topan, dan terpaan angin, sebuah pendulum seberat 800 ton dipasang di lantai 88. Yang jadi pertanyaan, mengapa penempatan pendulum itu pada lantai 88? Adakah korelasi dengan kepercayaan sebagian besar masyarakat Cina yang menganggap angka “88” sebagai simbol keseimbangan?

3. Petronas Tower 2, Kuala Lumpur, Malaysia

Hingga tahun 1998, gedung pencakar langit tertinggi di dunia selalu berada di Amerika Serikat. Perubahan terjadi ketika Menara Petronas Malaysia dibangun, menara kembar ini kemudian menancapkan dirinya sebagai gedung paling tinggi di dunia. Predikat itu dipegang selama enam tahun dan pada 2004 predikat gedung tertinggi di dunia beralih menjadi milik Taipei 101 Building yang lebih tinggi 188 kaki atau 61 meter lebih tinggi dari Menara Petronas.

4. Petronas Tower 1, Kuala Lumpur, Malaysia
Merupakan bagian dari Menara Kembar Petronas, berdiri dengan tinggi mencapai 1.483 kaki atau 452 meter, selesai dibangun pada 1998. Hingga sekarang Menara Petronas merupakan menara kembar tertinggi di dunia.

5. Sears Tower, Chicago

Menara Sears berdiri pada pada tahun 1974 dengan ketinggian mencapai 1.450 kaki atau 442 meter. Ketika dibangun, tingginya melebihi the World Trade Center di Kota New York yang kala itu menjadi simbol kemegahan Amerika sehingga menjadikan Menara Sears sebagai gedung tertinggi yang pernah dibangun Amerika Serikat.

6. Jin Mao Tower, Shanghai, Cina

Menara Jin Mao selesai dibangun pada tahun 1998 dengan tinggi mencapai 1.380 kaki atau 421 meter. Karena bangunan berdiri di atas jalan, menjadikan menara Jin Mao sebagai objek observasi terbesar dan tertinggi di Cina.

7. Two International Finance Centre, Hong Kong, Cina

Two International Finance Centre berdiri megah di Kota Hong Kong hingga ketinggian 1.362 kaki atau 415 meter. Bangunan yang selesai dibangun pada 2003 ini tercatat sebagai bangunan tertinggi keenam di dunia.

8. CITIC Plaza, Guangzhou, Cina

CITIC Plaza selesai dibangun pada tahun 1997, yang ketika selesai dibangun mencatatkan diri sebagai bangunan tertinggi di Cina, hingga tahun 1998 saat menara Jin Mao selesai dibangun. Tingginya mencapai 1.283 kaki atau 391 meter.

9. Shun Hing Square, Shenzhen, Cina

Ini merupakan gedung ketiga tertinggi di Cina dan kedelapan tertinggi di dunia. Shun Hing Square yang berdiri menjulang hingga ketinggian 1.260 meter atau 384 meter, selesai dibangun pada 1996, hingga sekarang tercatat sebagai bangunan baja tertinggi di Cina.

10. Empire State Building, New York, AS

Dikenal sebagai salah satu atraksi wisata yang terkenal di AS dan banyak menyedot turis, the Empire State Building berdiri menjulang hingga ketinggian 1.250 kaki atau 381 meter. Dibangun pada tahun 1931 the Empire State Building merupakan struktur paling tinggi di Bumi. Dengan dibangunnya menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, yang berdiri menjulang setinggi 1.368 kaki (417 meter) dan 1.362 kaki (415 meter). Menara kembar tersebut merupakan struktur paling tinggi di New York, hingga terjadinya serangan teroris pada 2001. Dengan robohnya WTC, status sebagai bangunan tertinggi di New York kembali dipegang the Empire State Building

Wisata Kiamat Meksiko

 

Kepanikan akan datangnya kiamat pada 2012 dimanfaatkan pemerintah Meksiko untuk menarik wisatawan.Tanggal 21 Desember 2012 merupakan hari yang dianggap oleh suku Maya sebagai hari kiamat.Sebaba pada tanggal tersebut merupakan akhir dari sistem penaggalan kalender yang mereka miliki sejak beribu tahun yang lampau.Kepanikan yang muncul akan kiamat justru secara cerdik dimanfaatkan oleh pemerintah Meksiko, tempat suku Maya berasal, untuk menarik wisatawan berkunjung ke negara tersebut.

Pemerintah Meksiko sendiri telah memasang target kedatangan 52 juta turis yang akan membanjiri lima negara bagian Meksiko yaitu : Chiapas, Yucatan, Quintana Roo, Tabasco, dan Campache untuk selama 12 bulan ke depan.

Hal ini merupakan bagian dari strategi kampanye pariwisata yang dicanangkan oleh Presiden Meksiko Felipe Calderon untuk mempromosikan Meksiko sebagai destinasi wisata yang unik dengan puncaknya ‘menyambut’ kiamat.

Beberapa kota yang telah di persiapkan oleh pemerintah Meksiko untuk menyambut datangnya hari kiamat adalah:

Tapachula

Kota ini terletak di perbatasan Meksiko dan Guatemala. Pihak pemerintah daerah setempat telah memasang sebuah jam digital setinggi 2,5 meter untuk menghitung mundur menuju 21 Desember 2012. Jam ini sendiri telah memulai penghitungan mundurnya mulai tanggal 21 Desember 2011 yang lalu.

Cancun dan Playa del Carmen

Kota yang berada di tepi pantai ini menawarkan kepada para turis sebuah botol berisi sebuah surat atau foto yang dapat dikubur selama 50 tahun. Terdapat pula, pusat seremonial menyambut kiamat seperti reruntuhan Tulum, Palenque, dan Chichen yang dipersiapkan untuk menampung ribuan wisatawan yang ingin menjadi saksi sejarah kiamat.

Merida, Yucatan
<Sebuah museum tentang suku Maya telah dipersiapkan oleh pemerintah Meksiko yang akan dibuka pada bulan Juni 2012. Pemerintah daerah Yucatan sendiri mengeluarkan dana sebesar 30 juta dollar untuk membangun museum ini, yang menjadi tempat bagi sekitar 750.000 artefak suku Maya.

Xunantunich, Cayo, Belize

Kalangan agen wisata banyak menganjurkan kota Cayo untuk menjadi destinasi yang wajib dikunjungi terutama pada 21 Desember 2012. Situs sejarah Xunantunich akan menyelenggarakan sebuah festival dan konser yang cukup besar diatas reruntuhan.

Calakmul Reserve, Campeche

<Kota ini, dulunya merupakan salah satu kota pusat peradaban suku Maya. Pembangunan sebuah hotel telah dimulai oleh pemerintah Meksiko di situs arkeologi Calakmul di Campeche, yang dikhususkan untuk wisatawan mancanegara yang menyenangi wisata sejarah dan kebudayaan kuno.

sumber foto : tonti4u.wordpress.com

Desa Terapung – danau Titicaca

Bayangkan, bangun tidur dan kemudian melihat dunia mengapung melewati jendela kita, kira-kira bencana apa yang sedang terjadi? Banjir bandang atau badai mimpi buruk sedang menerjang rumah kita? Atau ini hanya suatu hari yang biasa saja di ranjang rumput terapung di danau Titicaca.

sumber foto : tonti4u.wordpress.com

 Berlokasi di ketinggian 3812 meter di padang Peruvian, di sini terdapat 40 pulau-pulau terapung. Awalnya dibuat oleh orang-orang Uros dari Peru dari jaman Inca, pulau-pulau cantik ini digunakan untuk tempat pelarian dan berlindung dari peperangan yang tidak pernah berhenti di tanah airnya. Cara suku Uros ini bisa benar-benar membuat mereka sulit dijangkau oleh agresor, dan karena dikerjakan dengan sangat baik oleh masyarakat mereka selama berabad-abad, sepertinya tidak ada alasan untuk berpindah ke tanah daratan. Dibuat dengan tangan yang penuh ketelitian, pedesaan terapung ini disusun dari lapisan-lapisan rumput ilalang tortora yang dijadikan satu dan diikatkan ke suatu struktur dasar terapung, seperti ponton. Hasilnya adalah seperti rakit raksasa, dan hebatnya mampu menahan beban yang berat dan besar. Pulau-pulau ini sebenarnya cukup mutakhir dan bisa dipaksa dibebani tetapi juga harus diperbaiki secara berkala untuk memelihara kekuatannya. Ketika ilalang-ilalang tua mulai terlepas dari struktur dasarnya, ilalang-ilalang baru menggantikannya di permukaannya. Rumput-rumput ilalang ini diambil dengan hati-hati dari pinggiran danau Titicaca. Pulau-pulau ini ditambatkan di tempatnya dengan tali-tali yang diikatkan ke tiang-tiang kayu ke dasar danau. Hanya sedikit dari pulau-pulau itu yang mau menerima pengunjung, yang bukan berarti hal yang tidak baik karena ada laporan yang menyebutkan tradisi hidup suku Uros ini berubah cepat karena bertambahnya interaksi mereka dengan para turis. Para penghuni danau ini menganggap dirinya sebagai pelindung danau dan konon lebih dahulu dari peradaban Inca, dan menurut legenda dari generasi ke generasi, bahkan sudah ada sebelum matahari, bintang, dan bulan. Tidak heran mereka khawatir akan direcoki oleh orang-orang yang ingin tahu banyak tentang mereka.

Danau Titicaca merupakan danau tertinggi di dunia dengan ketinggian 3821 m dpl. Danau Titicaca juga merupakan danau terbesar di Amerika Selatan. Danau Titicaca mempunyai luas 8300 kilometer persegi. Danau Titicaca terletak di pegunungan Andes. Di sebelah timur terletak negara Peru sementara negara Bolivia terletak di sebelah barat.

Danau Titicaca mempunyai kedalaman rata-rata antara 140 dan 180 m, dengan kedalaman maksimal 280 m. Lebih daripada 25 sungai mengalir masuk ke dalam Danau Titicaca, dan Danau Titicaca mempunyai 41 pulau – sebahagian mempunyai penduduk yang padat.

Asal nama Danau Titicaca tidak diketahui; telah diterjemahkan menjadi “Batu Puma” atau juga sebagai Curam Timah Hitam. Danau Titicaca mempunyai beberapa nama setempat. Bagian tenggara danau bersambung dengan danau utama oleh selat Tiquina. Bagian tenggara danau kecil itu dikenal sebagai Danau Huinaymarca oleh orang Bolivia, dan danau besar sebagai danau Chucuito. Orang Peru pula mengenal danau kecil sebagai danau Pequeño dan danau besar sebagai danau Grande. Menurut cerita sejarah, dahulu ada seorang raja dari suku Indian Inca bernama Atahualpa yang menguasai daerah sekeliling danau tersebut. Suatu hari raja Atahualpa mendapat petunjuk dari dewa untuk menimbun harta (emas) milik kerajaannya maupun milik rakyatnya di dalam danau Titicaca. Raja Atahualpa yakin bahwa ia harus menaati perintah tersebut. Maka raja memerintahkan rakyatnya untuk mengumpulkan seluruh harta mereka yang terbuat dari emas. Rakyat yang patuh kepada rajanya pun tanpa keberatan mengikuti perintah tersebut, dan dengan dipimpin oleh raja mereka memasukkan harta emasnya ke dalam danau Titicaca.

Cahokia, Amerika

Cahokia, Kota Amerika Yang Terlupakan

Cahokia adalah kota penduduk asli Amerika kuno (ca. 600–1400) di dekat Collinsville, Illinois. Situs seluas 2.200-acre (8.9 km²) ini meliputi 120 gundukan buatan, meskipun hanya 80 yang masih bertahan hingga sekarang.[1] Gundukan Cahokia adalah situs arkeologi terbesar yang berkaitan dengan peradaban Mississippi di Amerika Utara.

Cahokia diperkirakan mengalami kemunduran setelah tahun 1300. Situs ini lalu ditinggalkan berabad-abad hingga ditemukan oleh bangsa Eropa Cahokia kemungkinan ditinggalkan karena masalah lingkungan seperti perburuan yang berlebihan, dan penggundulan hutan.

Situs ini merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO

 Empat abad sebelum Columbus tiba di Amerika, suku Indian di Illinois membangun kota berpenduduk 15.000 jiwa dengan lebih dari 100 bukit tanah, serta pengaruh yang luas jangkauannya. Apakah sebenarnya tempat yang disebut Cahokia ini, dan apa yang terjadi padanya?

 Jika mereka membuka Wal-Mart di Machu Picchu, teringat pada Collinsville Road. berdiri di tengah-tengah tempat yang di masa lalu merupakan peradaban terkemuka antara gurun pasir Meksiko dan Arktika Amerika Utara—kota Amerika pertama dan tidak terbantahkan lagi merupakan prestasi paling memukau karya suku Indian Amerika—dan sungguh tidak dapat membayangkan hal yang lebih buruk daripada jalan raya empat lajur yang mengiris situs bersejarah ini. Alih-alih membayangkan ribuan orang yang di masa lalu berkerumun di alun alun besar di sini, kenyataan bahwa Cahokia Mounds di Illinois hanyalah satu dari delapan situs budaya Pusaka Dunia di Amerika Serikat, dan dinodai oleh papan iklan Joe’s Carpet King di tengahnya.

 Meskipun begitu, nasib Cahokia masih lebih baik. Tidak sampai 16 kilometer ke arah barat, gundukan Indian purba yang menyebabkan St. Louis diberi julukan Kota Gundukan (Mound City) pada 1800-an nyaris seluruhnya rata pada pergantian abad itu. Dewasa ini hanya satu yang masih bertahan, bersama sejumlah foto dan sepenggal jalan kecil bernama Mound Street. Pembangunan besar-besaran pada abad ke-20 berdampak besar pada Cahokia: Para petani lobak (Armoracia rusticana) meratakan gundukan kedua terbesar untuk dijadikan lahan pertanian pada 1931, dan situs itu pernah menjadi tempat judi, apartemen, lapangan udara, dan (menambah parah pelecehan) teater mobil film porno. Namun, sebagian besar fitur pentingnya mampu bertahan, dan hampir semua yang bertahan itu sekarang dilindungi. Cahokia Mounds mungkin tidak memiliki penampilan cantik, tetapi dengan luas 1.600 hektare (890 di antaranya dilestarikan sebagai situs bersejarah), situs ini merupakan situs arkeologi terbesar di Amerika Serikat, dan telah mengubah pandangan warga Amerika tentang seperti apakah kehidupan suku Indian di benua ini sebelum datangnya bangsa Eropa.

Cahokia adalah puncak tertinggi, atau mungkin asal-usul, budaya yang oleh para ahli antropologi dinamakan budaya Mississippi—sekumpulan masyarakat petani yang mencakup Amerika Tengah-Barat dan Amerika Tenggara, sejak sebelum tahun 1000 dan mencapai puncaknya pada sekitar abad ke-13. Gagasan bahwa suku Indian Amerika mampu membangun sesuatu yang mirip kota tampak begitu mustahil bagi para pendatang dari Eropa, sehingga saat mereka menemukan gundukan Cahokia—yang paling besar berupa gedung dari tanah setinggi sepuluh lantai yang terdiri atas lebih dari 622.970 meter kubik tanah—langsung saja mereka mengira kota itu karya peradaban asing: bangsa Phoenix atau Viking atau mungkin suku Israel yang hilang. Bahkan sekarang pun, gagasan tentang adanya kota Indian sangat bertentangan dengan anggapan warga Amerika tentang kehidupan suku Indian sehingga tampaknya sulit diterima, dan mungkin penyangkalan inilah yang membuat semua warga Amerika tidak menggubris kehadiran Cahokia. Ironisnya , ternyata tidak seorang pun warga Amerika yang tinggal di luar St. Louis yang pernah tahu situs itu.

Ketidaktahuan warga Amerika disebabkan oleh banyak alasan sejarah dan budaya. Orang pertama yang menulis perihal gundukan Cahokia secara terperinci adalah Henry Brackenridge, pengacara dan ahli sejarah amatir yang menemukan situs itu dan gundukan pusatnya yang amat besar saat menjelajahi prairi di sekitarnya pada 1811. “Saya amat tercengang, seperti yang dialami saat merenungkan piramid Mesir,” begitu tulisnya. “Ini gundukan tanah yang menakjubkan! Menimbun tanah sebanyak itu pastilah memerlukan waktu bertahun-tahun, dan ribuan pekerja.” Namun, berita di surat kabar mengenai penemuannya boleh dikatakan tidak digubris orang. Dia mengeluhkan hal ini dalam suratnya kepada temannya, mantan Presiden Thomas Jefferson, dan berkat teman berkedudukan setinggi itulah berita tentang Cahokia memang akhirnya menyebar juga. Sayangnya, berita itu bukanlah berita yang oleh kebanyakan warga Amerika, termasuk para presiden berikutnya, dianggap menarik. Amerika Serikat tengah berupaya menyingkirkan suku Indian, bukan menghargai sejarah kebudayaan mereka. Undang-Undang Penyingkiran Indian (Indian Removal Act) yang disahkan Andrew Jackson pada 1830, yang memerintahkan relokasi suku Indian di kawasan timur ke lahan di barat Mississippi, didasarkan pada pandangan bahwa suku Indian adalah suku nomaden kejam yang pastilah tidak mampu menggarap lahan. Bukti tentang adanya kota Indian purba—kota yang menyaingi ukuran Washington, DC, pada waktu itu—pastilah mengganggu pandangan “resmi” tersebut. 

Bahkan berbagai universitas Amerika pun tidak memedulikan Cahokia dan situs arkeologi Amerika lainnya sebelum paruh kedua abad ke-20. Mereka lebih memilih untuk mengirimkan ahli arkeologi mereka ke Yunani dan Meksiko dan Mesir, yang kisah tentang peradaban purbanya berada di tempat yang jauh dan romantis. Segelintir orang yang membela Cahokia dan sejumlah pusat gundukan di sekitarnya di East St. Louis dan St. Louis melancarkan perlawanan yang boleh dikatakan gagal terhadap pembangunan dan pengabaian selama hampir satu abad lamanya. Dua situs yang disebutkan terakhir—di antara komunitas Mississippi terbesar—dihancurkan dan dijadikan jalan. Dan meskipun Monks Mound, yang dinamai menurut pendeta (monk) Prancis yang pernah tinggal dalam bayangannya, menjadi taman nasional kecil pada 1925, taman itu digunakan untuk kegiatan berseluncur dengan kereta dan perburuan telur Paskah. Bagian lain dari Cahokia umumnya diabaikan—dibangun dan hanya sesekali dikaji—hingga 1960-an.

Di saat itulah sejarah menunjukkan ironinya yang paling jelas, karena proyek pembangunan terbesar yang akan melanda Cahokia justru melambungkannya sebagai situs arkeologi. Program jalan raya antarnegara bagian yang dicanangkan Presiden Dwight Eisenhower, meskipun merupakan proyek yang mengubah bentang alam Amerika sama dramatisnya seperti jalan kereta api di masa lalu, mencantumkan ketentuan untuk mengkaji situs arkeologi yang ada di lintasan yang dilaluinya. Ini berarti tersedia dana lebih besar untuk penggalian daripada yang pernah tersedia sebelumnya, selain juga agenda yang jelas tentang di mana harus dilakukan penggalian, kapan, dan seberapa cepat. Dengan dua jalan raya melintasi kota kuno itu—I-55/70 sekarang membelah dua plaza utara Cahokia, menciptakan jalan yang diapit oleh Collinsville Road, setengah kilometer ke selatan—para ahli arkeologi mulai secara sistematis mengkaji situs itu. Ternyata mereka berhasil menyingkapkan sesuatu yang luar biasa.

Menjadi sangat jelas bahwa Cahokia lebih daripada sekadar gundukan besar tanah atau situs seremonial yang sesekali digunakan untuk berkumpul oleh beberapa suku yang bertebaran. Boleh dikatakan, di mana pun mereka menggali, para ahli arkeologi ini menemukan rumah—menunjukkan bahwa ribuan orang pernah tinggal dalam masyarakat itu—dan banyak di antara rumah-rumah ini dibangun dalam waktu yang amat singkat. Bahkan, seluruh kota tampaknya dalam sekejap tumbuh makmur pada 1050, fenomena yang sekarang disebut sebagai “big bang.” Orang berdatangan dari daerah sekitarnya, membangun rumah, dan dengan cepat membangun prasarana kota baru—termasuk beberapa gundukan dengan bangunan di puncaknya dan alun-alun besar seluas 37 lapangan sepak bola, yang digunakan untuk segala rupa, mulai dari pertandingan olahraga hingga pesta bersama hingga upacara keagamaan.

Yang membuat kisah ini lebih menarik adalah bukti kuat adanya pengurbanan manusia. Ahli arkeologi yang menggali Gundukan 72, begitu mereka menyebutnya, menemukan sisa-sisa jenazah 53 perempuan dan satu lelaki berstatus sangat tinggi, selain juga sisa-sisa jenazah empat lelaki tanpa kepala yang mungkin menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh semacam sistem penguasa. Penemuan ini bertentangan dengan pandangan lazim bahwa suku Indian Amerika hidup dalam masyarakat egaliter tanpa memiliki semacam penguasa yang sering memimpin dengan kejam sebagaimana yang terjadi pada banyak peradaban lainnya. Apakah Cahokia suatu kerajaan, seperti peradaban Mesoamerika di kawasan selatan? Buktinya masih belum meyakinkan, tetapi sesuatu yang menakjubkan pernah terjadi di sini, dan jelas ini misteri yang layak dicoba untuk disingkapkan. 

Jika kita ingin memahami Cahokia, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mendaki 156 tangga ke puncak Monks Mound. Dari puncak datar bukit besar ini—dengan area seluas 5 hektare, dasarnya lebih luas daripada dasar Piramid Besar Khufu, piramid terbesar di Mesir—kita bukan saja bisa membayangkan berapa banyak pekerja yang membangunnya, tetapi juga bisa memahami mengapa bangunan ini didirikan. Dari sini kita dapat menyurvei ranah Cahokia: dataran banjir luas yang dikenal sebagai American Bottom, terentang dari St. Louis hingga jajaran punggungan yang menjulang lima kilometer di timur Cahokia dan sejauh mata memandang ke arah utara dan selatan. Setelah mengarahkan pembangunan yang mungkin merupakan bangunan geografi tertinggi di dataran banjir seluas 450 kilometer persegi, seorang pemimpin atau pendeta berkedudukan tinggi memiliki pandangan luas ke kawasan yang dikuasainya.

Tentu saja, skenario itu mengasumsikan kita tahu bahwa Cahokia memiliki pemimpin tunggal seperti itu, padahal kita tidak tahu. Kita bahkan tidak tahu apa nama tempat ini—nama Cahokia dipinjam dari nama suku yang tinggal di dekatnya pada 1600-an—atau nama yang digunakan oleh orang-orang yang tinggal di sini untuk menyebut suku mereka. Dengan tidak adanya bahasa tertulis, mereka meninggalkan sedikit petunjuk yang sama yang berserakan, yang menyebabkan sulitnya memahami masyarakat prasejarah di mana pun. (Gerabah memang bukti yang bagus, tetapi seberapa jauhkah budaya asing bisa benar-benar mempelajari kita dengan hanya melihat makanan kita?) Jika menyibak kisah sejarah saja bisa diperdebatkan, apalagi mencapai kesepakatan tentang kisah prasejarah. “Anda pasti tahu apa kata mereka,” kata Bill Iseminger, ahli arkeologi yang sudah menangani Cahokia selama 40 tahun. “Kumpulkan tiga ahli arkeologi dalam satu ruangan, maka kita akan mendapatkan lima pendapat.”

Iseminger tidak berlebihan. Bahkan pada saat para peneliti Cahokia sependapat, mereka cenderung mereka-reka pendirian mereka sehingga seakan-akan mereka bertentangan—namun, ada beberapa aspek yang disepakati bersama. Semuanya sependapat bahwa Cahokia berkembang dengan cepat beberapa abad setelah jagung menjadi bagian yang penting dari diet setempat, bahwa hal itu mengumpulkan orang dari American Bottom, dan hal itu mengerdilkan komunitas lain di Mississippi, baik dalam ukuran maupun cakupannya. Perbedaan pendapat cenderung ada di seputar pertanyaan tentang seberapa banyak penduduk kota, seberapa terpusatkah kekuasaan politik dan pengelolaan ekonomi, serta sifat dan luasnya jangkauan dan pengaruhnya.

Di ujung ekstrem yang satu, kita mendapatkan penjelasan tentang Cahokia sebagai “pusat kekuasaan,” kerajaan hegemoni yang dipertahankan oleh kekuasaan yang merasuk secara mendalam ke kawasan Mississippi dan mungkin ada kaitannya dengan peradaban Mesoamerika seperti Maya atau Toltec. Di ujung ekstrem lainnya, kita mendapatkan ciri khas Cahokia sebagai kota yang hanya sedikit lebih besar daripada kota besar di kawasan Misssissippi yang penghuninya gemar membuat gundukan tanah yang tinggi. Namun, seperti biasa, pendapat yang benar berada di antara kedua ujung ekstrem itu. 

Saat ini diskusi dipimpin oleh Tim Pauketat di Illinois University, yang bersama koleganya Tom Emerson mengemukakan bahwa teori evolusi Cahokia merupakan produk masa visioner: seorang pemimpin, nabi, atau kelompok mengemukakan struktur masyarakat baru untuk kehidupan suku Indian, yang menarik orang berdatangan dari tempat yang jauh dan dekat, menciptakan gerakan kebudayaan yang dengan cepat merebak.

Ketika saya bertemu dengan Pauketat di Cohakia untuk melihat situs itu melalui panduannya, dia lebih tertarik untuk memperlihatkan hasil temuannya di dataran tinggi, beberapa kilometer ke arah timur: tanda bahwa Cahokia menguasai permukiman pekerja di sekitarnya yang memasok pangan ke kota dan kepada para penguasanya—bukti, menurut Pauketat, bahwa kekuasaan politik ekonomi Cahokia memang terpusat dan luas jangkauannya. Ini teori yang kontroversial, karena penelitian yang mendukungnya masih belum diterbitkan, dan karena menimbulkan pertanyaan tentang seperti apa sebenarnya masyarakat Cahokia di masa itu.

Gayle Fritz dari Washington University di St. Louis berkata bahwa jika Cahokia sebuah kota, bukanlah kota sebagaimana yang biasanya ada dalam pikiran kita, tetapi kota yang sarat oleh petani yang menanam sendiri pangannya di ladang sekitarnya. Kalau tidak, pastilah lebih banyak tanda keberadaan gudang penyimpanan pangan. Batas praktis ukuran masyarakat petani berbasis-subsisten inilah yang menyebabkan para minimalis seperti George Milner dari Penn State University berpendapat bahwa perkiraan penduduk Cahokia—saat ini berkisar antara 10.000 dan 15.000 untuk kotanya sendiri dan 20.000 hingga 30.000 di daerah sekitarnya—dikalikan dua atau beberapa kali lipat, dan anggapan bahwa Cahokia sebuah negara adalah anggapan yang berlebihan. Namun, karena hanya kurang dari satu persen kawasan Cahokia yang baru digali, lebih banyak spekulasi, dan bukan bukti, yang dikemukakan oleh setiap kelompok yang meyakini teori tertentu. John Kelly dari Washington University, ahli arkeologi yang sudah lama meneliti Cahokia menyimpulkan pemahaman tentang Cahokia dengan manisnya: “Kita belum tahu pasti apa fakta yang sebenarnya tentang Cahokia.”

Demikian pula, kita tidak tahu apa yang terjadi padanya. Cahokia adalah kota mati ketika Columbus mendarat di Dunia Baru, dan American Bottom serta sebagian besar dari Lembah Sungai Mississippi dan Sungai Ohio begitu sedikit penduduknya sehingga disebut sebagai Vacant Quarter (Daerah Kosong). Kematian Cahokia mungkin merupakan misteri yang lebih besar daripada kemunculannya, tetapi ada sejumlah petunjuk. Kota itu tumbuh berkembang terutama selama fase iklim yang menguntungkan, dan mulai menyusut ketika iklim menjadi lebih dingin, lebih kering, dan lebih sulit diramalkan. Bagi masyarakat petani yang bergantung pada hasil bumi yang teratur, kondisi yang berubah itu memberikan dampak beragam, mulai dari yang ringan hingga yang sangat parah. 

Kenyataan bahwa antara 1175 dan 1275 penduduk Cahokia membangun—dan membangun kembali, beberapa kali—benteng pertahanan yang mengelilingi bagian utama kota menyiratkan pertikaian atau ancaman pertikaian telah menjadi kebiasaan hidup di kawasan itu, mungkin karena terbatasnya sumber daya. Selanjutnya, populasi yang padat menciptakan masalah lingkungan secara terus-menerus—perusakan hutan, erosi, polusi, penyakit—yang bisa menjadi sulit ditanggulangi dan yang sudah menjadi penyebab punahnya sejumlah peradaban di dunia.

Tidaklah mengherankan bahwa Cahokia bertahan hanya sekitar 300 tahun, dan berada di puncak kekuasaannya paling lama hanya separuh dari kurun waktu itu. “Jika kita simak sejarah manusia dengan kaca mata yang luas, kegagalan itu sesuatu yang lazim,” ujar Tom Emerson. “Yang mengagumkan justru ketika ada tatanan sosial yang langgeng.”

Saat ini Emerson memimpin penggalian besar di kawasan yang berdekatan (ibarat Bogor dan Jakarta) dengan yang dinamakan East St. Louis pada masa Cahokia, situs yang penduduknya saja berjumlah ribuan orang. Dan seperti dikatakan sebelumnya, pembangunan jalan ikut menutup biaya penggalian tersebut: Jembatan baru yang melintasi Mississippi memberi tim Emerson peluang untuk menggali lahan seluas 14 hektare yang sebelumnya dinyatakan tidak dapat digunakan karena ada proyek pembangunan jalan. Kandang ternak yang dibangun di atas reruntuhan permukiman Mississippi telah ditutup selama bertahun-tahun, korban kemunduran East St. Louis dari kota yang semula ramai menjadi kumpulan lahan terlantar dan bangunan yang pintu dan jendelanya ditutupi papan agar tidak dimasuki penjahat atau penghuni liar. Inilah perjalanan sejarah di masa kini: begitu cepat bergerak sehingga tidak mudah dikenali.

Ketika saya mengendarai mobil ke St. Louis untuk melihat apakah masih ada yang menyiratkan gundukan besar (dinamai demikian oleh masyarakat yang tidak punya daya cipta untuk mencarikan nama yang lebih baik) yang hancur di situ pada 1869, saya kaget ketika melihat lokasi persisnya ternyata di daratan tempat akan berakhirnya bentang jembatan baru dari St. Louis. Saya bertanya kepada penduduk di sekitar lokasi itu dan ternyata para ahli arkeologi pernah menggali lahan ini juga sebelum pembangunan dimulai. Tetapi, mereka tidak menemukan bekas-bekas Big Mound, hanya puing-puing pabrik abad ke-19 yang pernah dibangun di situ. Itulah yang sekarang menjadi sejarah situs tersebut. Sisanya sudah tidak ada lagi. 

Setelah upaya pertama gagal, akhirnya saya berhasil menemukan tanda pengenal Big Mound. Bentuknya berupa monumen dari batu kerikil sekitar setengah blok dari Mound Street ke arah Broadway, tanpa plakat, dan rumput tumbuh di antara kerikilnya. Syukurlah saya menemukannya tepat sebelum seorang lelaki datang untuk menyemprotnya dengan zat pembunuh rumput liar. Saya bertanya apakah dia bekerja untuk pemrintah kota, dan dia menjawab tidak. Namanya Gary Zigrang, dan dia memiliki sebuah bangunan agak jauh dari situ. Dia sudah pernah menghubungi pemerintah kota tentang tanda pengenal yang sudah rusak itu, tetapi tidak ada tanggapan apa pun, sehingga akhirnya dia berprakarsa menanganinya sendiri. Dan ketika dia menyemprot rumput liar pada monumen terlupakan yang menandai gundukan terlupakan tentang orang-orang terlupakan yang pernah tinggal di situ, dia berkata, “Sungguh menyedihkan. Ada sejarah di sini, dan seharusnya ditangani baik-baik.”

(Sumber : http://nationalgeographic.co.id