Turpan – Xinjiang

Turpan adalah kota kecil berpenduduk sekitar 250.000an jiwa (sensus 2003) yang berjarak 150 km ke arah tenggara dari Urumqi. Mayoritas penduduknya adalah suku muslim Uighur (77%). Turpan boleh disebut sebagai kota anggur karena mayoritas penduduknya hidup mengandalkan hasil panen anggur. Setiap tahun pada bulan Agustus selalu diadakan pesta anggur oleh masyarakat setempat. Dalam event tahunan tersebut akan dipilih hasil panen anggur yang terbaik dan bagi yang berhasil memperoleh peringkat juara satu sampai tiga maka harga anggur mereka pada tahun berikutnya dipastikan akan melonjak 2-3 kali lipat!

Dari kejauhan kelihatan kalau kota Turpan adalah kota yang tandus apalagi melewati deretan pegunungan Flaming Mountain.

Namun ternyata di banyak area terdapat banyak sekali oase atau sumber air di bawah tanah. Dari manakah air ini berasal padahal di atas oase-oase tersebut terlihat gersang dan tandus? Rupanya air berasal dari mencairnya salju di atas deretan pegunungan yang mengalir ke dataran rendah lalu diserap oleh lapisan tanah. Untuk mengambil air dari lapisan bawah tanah dan memanfaatkannya sebagai pengairan untuk perkebunan anggur mereka, dirancanglah suatu sistem irigasi yang terkenal hingga saat ini, bernama Karez Underground Irrigation

Jiaohe Ancient City, Turpan

Jiaohe (pertemuan dua sungai) Ruins adalah reruntuhan kota kuno yang dibangun di atas sebuah bukit batu. Tidak banyak informasi yang dapat diperoleh dari peninggalan situs purbakala ini karena tidak diketemukan peralatan, ukiran atau lukisan di dinding batu sebagaimana umumnya situs kuno. Penggalian dimulai pada tahun 1950an dan hanya ditemukan beberapa tengkorak yang dari hasil penelitian diyakini bahwa orang-orang yang hidup pada zaman tersebut (1.800 SM) berasal dari Eropa.


Kota ini mulai ditinggalkan sejak kehancurannya oleh serangan pasukan Mongol pimpinan Genghis Khan pada abad 13

Gaochang Ancient City, Turpan

Konon Bikshu Buddha terkenal bernama Tong Sam Cong pernah singgah dan menetap di kota ini selama beberapa waktu dalam perjalanannya ke barat untuk mengambil kitab suci. Di area reruntuhan kota kuno ini terdapat satu bangunan yang dipercaya pernah dipakai oleh sang bikshu sebagai tempat berceramah dalam menyebarkan ajaran sang Buddha

 Situs Bizklik Buddha Cave yang terdapat di dekat Flaming Mountain. Di dalam gua-gua tersebut terdapat banyak sekali lukisan dinding yang warnanya sebagian masih bertahan hingga saat ini. Umumnya lukisan-lukisan tersebut menceritakan tentang kisah hidup sang Buddha hingga mencapai kesempurnaan dan memasuki alam nirwana.

Konon beberapa lukisan tembok yang dulunya masih utuh telah dipotong dan dipindahkan ke museum di Jerman

Flaming Mountain (Gunung Membara). Di dalam cerita Journey to the west atau perjalanan ke barat dikisahkan bikshu Tong Sam Cong (Tang San Zhang) sempat melewati pegunungan tersebut bersama murid-muridnya namun dicegat oleh siluman api yang ‘menyulap’ daerah tersebut menjadi panas membara dengan tujuan sang bikshu bersama muridnya akan pingsan sehingga siluman api dapat memakan daging bikshu Tong hidup-hidup supaya dia dapat memperoleh hidup kekal selamanya

Karena Bikshu Tong beserta rombongan sudah kepanasan akibat nyala api dari pegunungan tersebut maka Sun Go Kong pun mencari akal untuk menolong gurunya. Nah, ternyata Sun Go Kong yang sakti sekalipun tidak mampu melawan ulah siluman api. Satu-satunya cara untuk dapat mematikan api tersebut adalah dengan meminjam kipas raksasa kepunyaan putri kipas (istri siluman kerbau alias Niu Ma Wang / Niu Mo Wang / Gu Ma Ong).

 

(catatan: konon kitab suci yang asli yang dibawa oleh bikshu Tong kini tersimpan di dalam Pagoda Angsa Putih yang berlokasi di kota Xian. Jika Anda mengunjungi kota Xian maka tour guide di sana akan menjelaskan bahwa memang benar bikshu Tong pernah melakukan perjalanan ke barat (India) untuk mencari kitab suci namun tidak ditemani oleh murid-muridnya. Dikatakan cerita Kera Sakti hanyalah khayalan semata. Sosok Sun Go Kong, Pat Kai dan Sa Jing sengaja diciptakan dan ditambahkan ke dalam alur cerita Perjalanan ke Barat supaya filmnya lebih menarik)

Saat rombongan kami mengunjungi lokasi Flaming Mountain adalah di penghujung Agustus (akhir musim panas). Suhu udara panas masih sangat terasa (-+ 38 sampai 40 derajat celsius). Jam 19.30 ‘malam’ matahari masih terik sekali (langit baru gelap pada pukul sekitar 21.00)
‘Konon’ suhu udara di lokasi Flaming Mountain pernah tercatat mencapai 80an derajat celsius! Di lokasi tersebut dibangun sebuah termometer raksasa yang dapat mengukur suhu udara secara realtime.
Kalau benar suhunya 60 derajat celsius maka semua yang berada di situ sudah menjadi setengah matang karena tidak ada yang mungkin bisa bertahan di suhu tersebut. Suhu jakarta atau bali yang mencapai 35-36 saja sudah terasa ‘mau pingsan’ apalagi 60 derajat? 
Yang kami rasakan pada saat berada di lokasi Flaming Mountain paling panas tidak mungkin melebihi 40 derajat celsius.

Mungkin ukuran suhu termometer raksasa itu sengaja dibuat untuk menambah sensasi pengunjung saja

sumber foto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s